Dyah Roro Esti Perkuat Kerja Sama Pendidikan dalam ‘The 3rd Global Young MP Initiative Meeting’

    Dyah Roro Esti Perkuat Kerja Sama Pendidikan dalam ‘The 3rd Global Young MP Initiative Meeting’
    Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Dyah Roro Esti usai menjadi moderator dalam rapat virtual The 3rd Global Young MP Initiative Meeting “Innovations to Eliminate Learning Poverty," yang diselenggarakan oleh World Bank, Kamis (14/4/2022).

    JAKARTA - Anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Dyah Roro Esti mendorong setiap negara untuk dapat hadir bekerjasama untuk melakukan sebuah intervensi di tengah pandemi Covid-19 khususnya di sektor pendidikan. Sehingga nantinya di forum-forum internasional yang akan datang baik dari lintas negara maupun lintas parlemen dapat saling bekerjasama dalam bentuk transfer of knowledge ataupun transfer of technology agar sistem pendidikan di negara yang saat ini sedang membutuhkan, juga dapat berkembang.

    Hal ini diungkapkan Dyah Roro, usai menjadi moderator dalam rapat virtual The 3rd Global Young MP Initiative Meeting “Innovations to Eliminate Learning Poverty, " yang diselenggarakan oleh World Bank, Kamis (14/4/2022). Pertemuan tahun ini fokus membahas kemiskinan belajar. Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Wakil Ketua BKSAP DPR RI Gilang Dhielafararez dan Anggota BKSAP DPR RI Irine Yusiana Roba Putri. 

    "Jadi hari ini kami diundang oleh World Bank untuk berpartisipasi di dalam diskusi mereka yang membahas mengenai poverty and education sector, terkhusus di tengah pandemi dimana akses daripada pendidikan di beberapa negara sangat terbatas. Intinya bagaimana kita bisa bangkit dari pandemic. Jangan sampai the educational sector ini malah mengalami penurunan. Maka kembali lagi bagaimana setiap negara the participating countries bisa bekerja sama terkhusus di tengah pandemi Covid-19, " ungkap Dyah Roro usai pertemuan.

    Terlebih melihat pendidikan di Indonesia sendiri, Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI itu menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dimana dalam hal ini beberapa negara termasuk Indonesia belum sepenuhnya maksimal. "Baik itu dari segi accesibility, segi infrastruktur masih banyak masyarakat di Indonesia belum mempunyai akses terhadap gadget dan hal-hal lain yang memperbolehkan mereka untuk mendapatkan informasi selayaknya, sebanyak-banyaknya bukan hanya di Indonesia saja tapi juga di beberapa negara-negara lainnya, " jelas Dyah Roro.

    Oleh karena itu, melalui pertemuan tersebut diharapkan ke depannya masing-masing Anggota Parlemen dapat menyampaikan apa yang dibutuhkan negaranya terhadap sektor pendidikan khususnya, untuk menguatkan satu negara dengan negara lainnya "Karena yang hadir adalah Anggota Parlemen berarti bagaimana nantinya di forum-forum internasional yang akan datang kita mobilize, kita bekerja sama baik lintas negara ataupun lintas parlemen. Jadi develop country helping develop incountries, " imbuh Anggota Komisi VII DPR RI itu. 

    Global Young MP Initiative Meeting mengumpulkan anggota parlemen berusia 40 tahun ke bawah dari seluruh dunia untuk belajar tentang tantangan pembangunan yang paling mendesak dan berbagi strategi untuk mengatasinya. Para legislator muda diposisikan untuk memberikan perspektif terhadap banyak masalah sulit yang berdampak pada generasi mereka, memperkuat diskusi kebijakan, dan menerapkan solusi inovatif. Pertemuan yang dihadiri kurang lebih 90MPs/participants dari berbagai negara ini fokus membahas kemiskinan belajar, atau ketidakmampuan untuk membaca dan memahami teks sederhana pada anak usia 10 tahun.

    Indikator kemiskinan pembelajaran terdiri dari dua komponen: pembelajaran dan partisipasi. Komponen pembelajaran mengacu pada data hasil belajar membaca yang dipetakan pada anak usia 10 tahun. Komponen partisipasi sesuai dengan angka putus sekolah untuk anak-anak atau usia sekolah dasar. Menggunakan ukuran yang dikembangkan bersama oleh Bank Dunia dan Institut Statistik UNESCO, diperkirakan 53 persen anak-anak di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak dapat membaca dan memahami cerita sederhana pada akhir sekolah dasar. Di negara-negara miskin, tingkatnya mencapai 80 persen

    Dyah Roro Esti DPR RI BKSAP GOLKAR
    Admin

    Admin

    Artikel Sebelumnya

    Dedi Mulyadi Minta PT Jasa Marga Perbaiki...

    Artikel Berikutnya

    Kasad Jenderal Dudung Beri Penghargaan Atas...

    Berita terkait

    Peringkat

    Profle

    Syafruddin Adi

    Afrizal

    Afrizal verified

    Postingan Bulan ini: 309

    Postingan Tahun ini: 948

    Registered: May 25, 2021

    Achmad Sarjono

    Achmad Sarjono

    Postingan Bulan ini: 302

    Postingan Tahun ini: 1288

    Registered: Nov 20, 2020

    Maskuri

    Maskuri

    Postingan Bulan ini: 171

    Postingan Tahun ini: 274

    Registered: Mar 10, 2022

    Basory Wijaya

    Basory Wijaya

    Postingan Bulan ini: 158

    Postingan Tahun ini: 423

    Registered: Oct 11, 2021

    Profle

    Wahyudha Widharta

    Wujud Bakti pada Negeri, Kemenkumham Jateng Dukung Launching Buku Sesepuh Berbagi
    Pajaknya Tidak Dibayar Hotel Surya Pesona Beach Terpaksa Ditutup 
    Peringatan Upacara Hardiknas Tahun 2022 di Lapas Narkotika Purwokerto
    Tingkatkan Kesejahteraan Pegawai Lapas Pasir Putih Gandeng BRI

    Follow Us

    Recommended Posts

    Pandemi Belum Berakhir, Babinsa Terus Berikan Imbauan dan Edukasi Terkait Prokes
    Babinsa Madat Dampingi Petani Panen Tanaman Jahe
    Reskrim Polres Ciko dan Polsek Lemahwungkuk Sigap Dalam OPS Libas Lodaya 2022 Tangkap Pelaku Curat
    Pembenahan Rencana Kampus UNP di Sijunjung Dibahas Serius Bersama Pemkab
    Perbaharui Data Teritorial, Babinsa Nurussalam Sambangi Kantor Desa Binaan